Finding Alina
Ruang Hati
 
 
Selirih Hati,Sedamai Jiwa
Posted on April 13th, 2009 at 11:06 pm by Alina Kharisma and tagged ,

Kulangkahkan kaki ku dijalan setapak hutan cemara yang terletak dibelakang villa.Ada kerinduan yang membuncah semenjak aku menginjakkan kaki ku disini.Atmosfer kota Bandung selalu mengingatkan aku akan segala kenangan indahku bersama Reiji.Reiji kekasih tercintaku yang telah pergi satu tahun yang lalu.Ia mengalami kecelakaan pesawat dalam perjalanan pulang usai pertukaran pelajar di Kairo.Andai kecelakaan itu tak pernah terjadi,tentu saat ini Reiji masih disini bersamaku.menemaniku menyusuri hutan cemara hingga sampai didanau kecil.Danau kecil yang memiliki cerita cinta yang telah usang.Langkah kakiku sampai pada tempat yang kutuju.Danau bening.Begitulah Reiji menamakan tempat ini.Dulu setiap hari libur Reiji dan aku sering berlibur ke villa milik keluarganya dan berpiknik ditepi danau bening,yang ditumbuhi bunga- bunga teratai cantik.Tempat ini begitu istimewa buatku.Kulihat beberapa kupu-kupu bersayap kuning melintasi danau,dan hinggap dengan anggunnya dikelopak teratai putih yang sedang mekar begitu indahnya.Aku duduk ditepi danau ,memandangi kebeningan air danau.Kubayangkan wajah Reiji terbias dalam pantulan air.Aku tersenyum getir.“Aku merasa kamu masih disini…”Kupejamkan mataku,kunikmati sehembus angin yang menerpaku.Kubayangkan Reji terkasih mendekapku.Seketika aku merasa hangat akan fantasiku sendiri.Hmmm…kehangatan yang menyakitkan.Aku mendengar suara bergemerisik halus dari atas langit sana.Kudengar bisikan kekasih membelai hatiku.Bisikan yang mengatakan sebuah kata cinta yang biasa ia bisikan kepadaku.Aku masih saja diam terpekur mengenangnya.Sementara waktu semakin jauh tinggalkan aku.Aku sadar air mata kehilanganku tak akan membawanya kembali kedalam dekapanku.Namun ingin sekali aku dapat melihatnya,menyentuhnya.Bukan merasakan kehadirannya yang tak dapat kulihat. Kerinduanku bergejolak.Aku ingin bertemu Reiji.Kutenggelamkan tubuhku kedalam danau.Air danau yang dingin menusuk tubuhku hingga ketulang.Kurasakan ada yang memelukku.Mungkinkah itu Reiji?Reiji kekasihku…?Saat aku membuka mataku,aku sudah berada disebuah kamar.Kudapati seraut wajah seseorang.Air wajahnya tersirat kelegaan.Agas tersenyum.Ia calon tunanganku.Agas adalah kakak Reiji.”Syukurlah Sya kamu sudah sadar.”
“Agas,tadi aku melihat Reiji ! Ia berusaha menyelamatkan aku !” Ucapku berapi-api.Agas memandangku sedih.“Yang menyelamatkanmu Agas bukan Reiji !”Tegas seseorang diambang pintu.Suara itu milik Chyntia kakakku(Ia ikut berlibur bersama kami untuk membantu Agas mengawasiku yang selalu saja mencoba bunuh diri).Ucapan Chyntia seakan menyadarkan aku akan kegilaanku terhadap bayangan Reiji,bahwa orang yang sudah mati mana mungkin bisa menyelamatkan seseorang yang mencoba bunuh diri.Aku diam terpekur mendengarnya.Agas hanya tersenyum samar.Senyuman yang selalu menyiratkan kepasrahannya.Pasrah akan kenyataan karena aku tetap mencintai Reiji dan tak kunjung mencintai Agas.Aku bisa membayangkan betapa lelahnya menjadi Agas yang selalu bersabar menungguku untuk kucintai.Namun kenyataannya Reiji tak tergantikan.“Kalau Agas tidak segera mencarimu,dan melihatmu menerjunkan diri kedanau mungkin sekarang kamu sudah mati…”Ucap Chyntia sinis.Kenapa tidak kamu biarkan aku mati saja Agas…..?Aku hanya akan menyiksa hatimu.Seharusnya aku berterima kasih pada Agas karena ia sudah menyelamatkan nyawa ku untuk kesekian kalinya,ketika aku mencoba bunuh diri saat aku sangat merindukan Reiji.Aku tidak ingin apa-apa,aku hanya ingin bersama Reiji kembali.“Sya…tindakan kamu tadi bikin aku takut.Jangan lakukan lagi ya….”Aku tidak menjawab permintaan Agas.Aku mengalihkan pandanganku darinya.”Aku ingin istirahat…”Agas mendesah panjang.”Baiklah.Aku tahu kamu butuh istirahat.”Agas mencium keningku dan berlalu bersama Chyntia.“Maafkan aku Agas…”Lirihku ketika ia menghilang dibalik pintu.Aku tahu keadaan ini sangat tidak adil buat Agas.Dia calon tunanganku tapi yang kucintai bukan dia.Aku tak pernah bisa lepas dari bayang-bayang Reiji.Ahhhh….udara pagi di kota Bandung memang sangat menyegarkan.Akusangat menikmati suasana pagi diantara kebun mawar putih yang mengelilingiku.Aku duduk dibangku kayu sambil menikmati teh chamomile hangat.Aku memandangi setiap gambar diri Reiji,aku dan Agas dalam album kenangan yang ada dipangkuanku.Terbayangmasa-masa indahku yang dulu bersama Reiji terkasih.Air mataku mulai menetes lagi mengingat itu.Andai aku bisa mengulang saat-saat bahagia itu.”Agas mencarimu Sya.Dia khawatir…”Suara Chyntia mengusikku.Aku berpaling kearahnya.”Aku tidak akan hilang darinya…”sahutku
“Kamu memang tidak pernah hilang darinya.Tapi dia tidak pernah ada dihatimu kan Sya?”Aku menangkap nada sindiran dari ucapan Chyntia.Ia menatapku,“Jujur Sya,aku muak,kamu membiarkan diri kamu larut atas kepergian Reiji.Kamu sibuk sendiri dengan mengenang Reiji tanpa memikirkan perasaan Agas yang sangat mencintai kamu.Apakah kamu tidak pernah tersadar sedikitpun,sikapmu menyakiti Agas?!”Chyntia terlihat marah padaku.“Lupakan Reiji Sya….”Aku tersentak atas permintaan Chyntia.“Bagaimana mungkin aku melupakan Reiji.Sedangkan dia masih berada disini.Ia selalu hidup dihatiku.Aku tak kan bisa melupakannya…”
“Bukannya tidak bisa ! Tapi kamu yang tidak mau ! Kamu terlalu menikmati kepedihanmu.Terimalah kematiannya Sya.Pandanglah masa depan kamu.Kumohon Sya,Belajarlah mencintai Agas.Ia sudah banyak berkorban untuk kamu…”
“Jangan paksakan perasaan Asya,Chyn…”
Agas berada diantara kami.Chyntia berlalu,meninggalkan kami berdua.Agas duduk disampingku.Ia membawakan baki sarapan untukku.Roti panggang selai stroberry dan segelas susu coklat hangat.Kurapatkan cardigan biruku “Kamu dingin ya Sya?Ini diminum ya…”Agas menyodorkan susu coklat itu.Aku meneguknya.Hangat lumayan merasuki tubuhku.Aku memandangi Agas dengan sendu,dan ia selalu saja membalasnya dengan tatapan hangat.
“Agas maafkan aku…aku sadar,aku terlalu banyak melukaimu…“
“Jangan meminta maaf Asya…aku tidak apa-apa jika kamu tidak bisa mencintaiku.Aku sudah cukup bahagia ada disampingmu…”
Aku menggenggam tangan Agas.”Terima kasih Agas.Kamu lelaki yang baik…”
“Seharusnya aku yang berterima kasih…karena kamu telah mengizinkan aku untuk menjaga kamu.”
Aku tersenyum mendengar keikhlasannya.
“Besok kita akan kembali ke Jakarta Sya.Kamu siap untuk melakukan operasi itu?”Tanyanya dengan lembut.Aku mengangguk lemah.
“Jangan takut Sya.Yakinlah,pencangkokan hati itu akan berhasil.”
Dua bulan yang lalu dokter memvonis aku menderita kanker hati.Untungnya penyakitku ini diketahui pada tingkat permulaan.Jadi masih bisa dilakukan operasi.Sebenarnya aku menolak keras untuk dioperasi tapi keluargaku terutama Agas tidak membiarkan aku mati digrogoti oleh penyakit kanker itu.Saat mengetahui hatiku terserang shyrosis aku rela,justru aku menanti kematian itu datang padaku,agar aku segera bertemu Reiji terkasih.Namun dengan segala upaya keras Agas,ia berhasil membuat aku menjalani pengobatan,membujuku untuk melakukan pencangkokan hati.
“Asya…boleh aku mencium kening kamu, (Read the rest of this story.)